
SEMARANG, derapguru.com — Manusia diminta untuk senantiasa memperbanyak ber-istighfar dalam menjalani hidup. Istighfar ini bukan sekadar ucapan untuk memohon ampunan atas dosa-dosa, tapi juga sebuah doa yang tak perlu diucap.
Pesan tersebut disampaikan Ustad Hajudin Ali saat memberikan tausiyah dalam acara halal bihalal Paguyuban Keluarga Besar Pengurus PGRI Jawa Tengah yang digelar di Kediaman Ketua PGRI Semarang Dr H Muhdi SH MHum, Sabtu 28 Maret 2026.
“Istighfar bukan sekadar mohon ampunan, tapi doa yang tak perlu diucap,” ungkap Ustad Hajuddin.


Dia menambahkan, ada sebuah kisah, suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal mau memasuki sebuah masjid untuk beristirahat. Marbot masjidnya yang galak dan tidak kenal dirinya, langsung mengusirnya. Tidak hanya mengusir dari dalam masjid. Duduk di emperan masjid pun diusir lagi.
“Rupanya ada penjual roti yang melihat peristiwa itu. Karena kasihan, penjual roti menawari menginap di rumahnya. Maka jadilah Iman Ahmad bin Hanbal bermalam di sana,” urai Ustad Hajuddin.


Saat tinggal di rumah penjual roti ini, Imam Hanbal memperhatikan setiap gerak-gerik si tuan rumah. Uniknya, dia melihat si penjual roti tersebut selalu melafalkan istighfar pada setiap hembusan nafas. Ditanyakanlah perihal itu pada si penjual roti dan si penjual roti pun tersenyum.
“Ketahuilah, karena istighfar ini, doa-doa saya selalu dikabulkan. Kecuali hanya satu doa yang belum pernah dikabulkan. Yakni, doa untuk bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal,” ungkap si penjual roti.


Seketika itu pula Imam Ahmad bin Hanbal menyadari bahwa pengusirannya dari masjid dan bermalamnya di rumah ini karena doa-doa si penjual roti. Ketika Iman Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa dirinya orang yang ingin dia temui, maka terkejut dan penuh rasa syukurlah si penjual roti.
“Inilah kenapa kita harus senantiasa mengucapkan istighfar dalam setiap kesempatan. Karena sekali lagi, istighfar bukan sekadar mohon ampunan, tapi doa yang tak perlu diucap,” tandas Ustad Hajuddin. (za)




