
Banjarnegara, derapguru.com-PGRI sebagai organisasi profesi harus berani membersihkan guru dari hal-hal yang mengotori guru.
“Melakukan kesalahan itu karena sifat manusiawi. Maka PGRI harus memiliki semangat menyampaikan kebenaran dan kesabaran. Guru bukan Abu Janda yang tanpa etika”.
Hal itu diungkapkan mantan Plh Bupati Banjarnegara Syamsudin dalam acara Buka Bersama Keluarga Besar PGRI Banjarnegara, Sabtu 14 Maret 2026 di aula Rumah Guru Banjarnegara.
Di hadapan seluruh pengurus PGRI Kabupaten, anak lembaga dan ketua-ketua PGRI cabang, Syamsudin menyitir Quran surat Al Furqon agar menjadi pijakan bagi guru untuk bersikap rendah hati, memiliki adab yang baik serta tidak pernah sombong.
“Jadilah guru yang mrojol selaning garu. Mampu membawa diri dengan baik, mau mendengar orang lain bicara. Karena saat ini situasinya sungguh sedang tidak baik-baik saja melihat fenomena global dan juga fenomena sosial di masyarakat kita,” tandas mantan Ketua PGRI Banjarnegara ini.
Secara khusus ia berharap berdasarkan pengalaman terdahulu, agara jangan sampai guru berurusan dengan pelanggaran hukum. Ia juga menyoroti kasus-kasus korupsi yang belakangan terjadi di Demak, Pekalongan bahkan terbaru di Cilacap. Ia menambahkan bahwa pemimpin yang tidak menjalankan sepenuhnya menjadi ibadurahman atau seorang abdi Allah yang penyayang, maka tidak akan diberkahi oleh Allah.
Syamsudin juga berpesan agar monumen Sulistyo di Kalitengah dapat dirawat dengan baik, dan juga PGRI dapat memiliki taman baca Sulistyo yang letaknya disiapkan oleh Syamsudin di area masjid Al Haq Kalipelus Purwanegara.




