
NAN Murniati
Memasuki tahun 2026, wajah institusi pendidikan kita telah berubah secara fundamental. Sekolah bukan lagi sekadar gedung dengan papan tulis dan deretan bangku, melainkan ekosistem hibrida yang terintegrasi dengan sensor, algoritma, dan dasbor analitik. Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, muncul sebuah tantangan krusial bagi para kepala sekolah dan pemangku kebijakan: Bagaimana memimpin sekolah berbasis data tanpa kehilangan “ruh” atau makna dari pendidikan itu sendiri?
SAAT ini, kepala sekolah memiliki akses ke data yang lebih melimpah daripada pendahulunya satu dekade lalu. Kita memiliki Learning Management Systems (LMS) yang mencatat setiap detik aktivitas siswa, algoritma prediktif yang bisa memetakan risiko putus sekolah, hingga data kehadiran guru yang terhubung langsung ke sistem penggajian pusat.
Secara teori, keberlimpahan data ini seharusnya menciptakan efisiensi yang sempurna. Namun, di sinilah letak paradoksnya. Seringkali, semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin sedikit kita melihat sosok manusia di baliknya. Seorang siswa bukan sekadar “skor literasi 75” atau “persentase kehadiran 80%”. Ia seorang individu dengan dinamika emosional, latar belakang keluarga, dan potensi unik yang tidak selalu tertangkap oleh angka. Kepemimpinan sekolah di tahun 2026 menuntut kemampuan untuk membaca apa yang tersirat di antara kolom-kolom spreadsheet.
Dahulu, pemimpin sekolah sering kali terjebak dalam peran administrative, mengurus dokumen, anggaran, dan laporan fisik. Di tahun 2026, peran administratif ini sebagian besar telah diambil alih oleh otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Hal ini seharusnya membebaskan pemimpin sekolah untuk kembali ke fungsi hakikinya: sebagai arsitek budaya. Seorang pemimpin sekolah yang efektif harus mampu menggunakan data sebagai alat navigasi, bukan sebagai tujuan akhir. Data harus digunakan untuk memanusiakan pendidikan, bukan untuk melakukan mekanisasi terhadapnya. Sebagai contoh, jika data menunjukkan penurunan drastis pada performa akademik di satu kelas, pemimpin yang bijak tidak akan langsung menjatuhkan sanksi pada gurunya. Sebaliknya, ia menggunakan data tersebut sebagai pintu masuk untuk berdialog, “Apa yang sedang terjadi di kelas Anda? Apakah ada kendala emosional yang dialami siswa? Bagaimana sekolah bisa mendukung Anda?”
Ada risiko besar ketika kepemimpinan sekolah terlalu condong pada hasil kuantitatif. Fenomena ini sering disebut sebagai Goodhart’s Law, ketika sebuah ukuran menjadi target, ukuran tersebut tidak lagi menjadi ukuran yang baik. Jika sekolah hanya mengejar angka-angka tinggi dalam pemeringkatan atau statistik kelulusan demi citra, maka proses pembelajaran di dalam kelas akan terdistorsi. Guru mengajar hany untuk memenuhi standar tes (teaching to the test), dan siswa akan belajar hanya untuk mengejar nilai. Di sinilah makna Pendidikan, pembentukan karakter rasa ingin tahu, dan integritas mulai terkikis. Kepemimpinan di tahun 2026 harus memiliki keberanian untuk mempertahankan “ruang-ruang abu-abu” yang tidak bisa diukur, seperti perkembangan empati siswa atau kreativitas yang tidak terstruktur.
Kepemimpinan yang ideal di masa sekarang adalah perpaduan antara informasi berbasis data dan intuisi kemanusiaan. Intuisi bukanlah tebakan tanpa dasar, melainkan hasil dari pengalaman bertahun-tahun berinteraksi dengan manusia. Seorang pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu menggunakan kecanggihan data untuk memahami kebutuhan unik setiap orang, namun tetap menyampaikan solusinya dengan hati dan sentuhan manusiawi. Personalisasi dengan melihat kebutuhan khusus tiap siswa dalam skala besar menggunakan data dengan cermat dan tepat. Pemantauan perkembangan siswa difasilitasi melalui dasbor perkembangan siswa yang bisa diakses orangtua. Meskipun demikian pertemuan tatap muka yang membahas harapan dan kekhawatiran orang tua tetap menjadi fondasi kepercayaan yang tak tergantikan. Fakta lain menunjukkan bahwa data beban kerja bisa memberikan indikasi kelelahan (burnout) guru. Namun, hanya dengan hadir secara fisik dan mendengarkan keluh kesah guru di ruang istirahat, seorang kepala sekolah bisa memahami beban psikologis yang sebenarnya.
Inilah esensi mengelola data tanpa kehilangan makna. Hal ini berarti juga menciptakan budaya refleksi di sekolah. Pemimpin harus mengajak guru dan staf untuk bertanya: “Data ini memberitahu kita tentang apa, dan apa yang tidak dikatakannya?” Kita harus sadar bahwa data seringkali bersifat retrospektif, ia memberi tahu kita tentang apa yang sudah terjadi. Sementara itu, kepemimpinan adalah tentang masa depan. Kepemimpinan adalah tentang memberi harapan dan visi kepada siswa-siswa yang mungkin saat ini secara statistik terlihat tidak berprestasi, namun memiliki percikan bakat yang hanya bisa dilihat oleh mata manusia yang penuh perhatian. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana memanusiakan guru dan tenaga kependidikan dalam berbagai tuntutan perubahan. Pada akhirnya, di tahun 2026 dan seterusnya, teknologi akan terus berkembang. Algoritma akan semakin cerdas dalam memproses angka-angka pendidikan. Namun, esensi pendidikan tetaplah sebuah hubungan antarmanusia transmisi nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Oleh karena itu, bagaimana kepemimpinan mampu menjadikan data sebagai pelayan bagi kemanusiaan, bukan sebaliknya. Pemimpin yang hebat tidak akan membiarkan sekolahnya menjadi pabrik data yang dingin, melainkan menjadikannya taman tempat setiap anak bisa tumbuh sesuai kodratnya, dengan bantuan kompas data yang akurat namun tetap dalam dekapan makna yang dalam. Pendidikan adalah tentang menyalakan api, bukan mengisi ember. Data mungkin bisa memberi tahu kita berapa banyak kayu bakar yang tersedia, tetapi hanya sentuhan kepemimpinan yang bermaknalah yang bisa menyalakan apinya.
_______________
NAN Murniati
Penulis adalah akademisi Manajemen Pendidikan UPGRIS yang mendalami bidang Perencanaan Pendidikan dan Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pendidikan.



