
BEBERAPA bendera kecil berkibar di beberapa titik Pantai Pandawa. Bendera berkelebat seperti cemeti yang dikibas-kibaskan. Awan hitam dari kejauhan terus bergerak. Membawa angin. Membawa ombak. Membawa hujan di sore ini.
Ya. Pantai Pandawa diguyur hujan. Angin kencang dan ombak menghantam tepian. Tak ada pasir putih. Semua tertutup air. Hanya buih dan gemuruh yang terdengar. 
Tapi begitulah. Suasana hujan di tepi pantai selalu sama: sekejap datang, sekejap pula menghilang. Berbeda dengan hujan di pegunungan. Rintiknya terasa lebih lama dan mendalam.
Tapi hujan yang mereda, tak membuat ombak jeda. Suara petugas pantai dari pengeras suara terdengar memperingatkan untuk tidak memasuki tepian. Bendera belum diturunkan, kode khusus bahwa pantai masih belum benar-benar aman.
“Untuk sementara mohon untuk tidak memasuki area pantai dulu,” kata salah satu petugas mencoba mengingatkan beberapa pengunjung yang mendekat ke pantai.
Pantai memang bukan perkara hujan reda. Tapi ombak yang keras juga perlu kewaspadaan. Dan ketika pantai mulai benar-benar tenang, barulah kibaran bendera diturunkan dan para pengunjung mulai diizinkan untuk mendekat.

“Sayangnya hujan dan ombak, padahal bagus,” kata Faza Fahira Azifah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).
Fahira juga menyampaikan seumpama tidak sedang dalam keadaan hujan dan ombak, dapat dipastikan destinasi Pantai Pandawa luar biasa.

Hal senada diungkapkan Diva Quraninda Ramadani, mahasiswa Bahasa Jawa UPGRIS. Diva mengatakan meskipun secara nama lebih kuat Kuta, tapi secara keindahan mungkin lebih bagus Pandawa.
“Lebih bagus Pandawa ketimbang Kuta,” ungkap Diva.
Sedikit berbeda disampaikan Abibah Lutfia Safira, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Meskipun sama-sama melihat Pandawa diterpa hujan, Safira mengungkapkan Pandawa memang memiliki nilai lebih ketimbang Kuta.
“Lebih indah pemandangannya. Lebih tenang, tidak riuh. Dan airnya lebih jernih,” ungkap Abibah. (za)




