
PAGELARAN Sendratari Ramayana belum usai diperbincangkan. Ekspos “terlalu superhero” bagi Ramawijaya dan terlalu “dijahatkannya” Rahwana mendapatkan banyak gugatan. Bukan tentang baik dan jahatnya seorang tokoh, tapi proporsi dalam pembentukan karakter tokoh yang perlu diseimbangkan. Perlu lebih dimanusiawikan.
Abah Broto (Murrywantbroto), apresiator Sastra yang juga dosen PBSI UPGRIS, mengulik tentang pagelaran yang dianggapnya terlalu Rama-sentris. Mestinya diulik juga kenapa Sinta masih suci meski diculik selama 11 bulan 14 hari di Negeri Alengka.

“Pernahkah kita berpikir, berapa lama Sinta diculik Rahwana? Apakah logis dengan waktu selama itu, dan dengan karakter Rahwana yang ‘brangasan’, Sinta masih suci?” ungkapnya.
Abah Broto juga mengulik cerita carangan (cerita yang berkembang di Jawa), bahwa Sinta adalah anak dari Rahwana yang dibuang. Sebagai ganti pembuangan Sinta, digantilah sosoknya dengan Megananda (Indrajit).

Gugatan lain disampaikan psikolog yang juga dosen Bimbingan dan Konseling, Desi Maulia, yang mempertanyakan “Kelelakian” Ramawijaya yang memerintahkan Sinta untuk dibakar. Bagian pembakaran Sinta ini sangat melukai kaum perempuan.
“Saya gemas dengan Rama. Kelihatan sekali dia itu kurang greget memperjuangkan isterinya. Begitu Sinta balik, kok ndadak diminta nge-tes kesucian,” gugat Desi.
Desi melanjutkan bagaimana bila posisinya dibalik: Sinta yang mempertanyakan Rama. Apa yang dilakukan Rama sekian lama tidak bersama Sinta.
“Kalau dibalik, kamu udah ngapain aja Rama selama itu, piye jal?” kata Desi sambil tertawa.

Lain lagi dengan pandangan dosen PBSI yang juga Sastrawan UPGRIS, Setia Naka Andrian. Meski melihat ketidakseimbangan perlakuan antara Rama dan Rahwana, dia mengatakan itu sebagai pilihan sutradara.
“Sutradara berhak membuat cerita versinya. Suka-suka sutradaranya. Kalau mau protes, buat saja lakon dengan cerita sendiri,” jawabnya sambil tersenyum. (za)




