
JELANG tengah hari rombongan Wisata Dosen dan Karyawan UPGRIS sampai di destinasi pertama. Yang diagendakan adalah Eksplore Tebing Breksi. Sengatan terik matahari terasa dari lanskap destinasi yang bertebing-tebing.
Untung angin semilir terus menerpa sehingga sengatan rasa panas itu sekejap datang sekejap pula pergi. Bergantian mengikuti sapuan-sapuan angin perbukitan. Dari tebing-tebing terbuka inilah, panorama Kota Sleman terlihat bertingkap-tingkap.

Tebing Breksi adalah situs yang menjadi bukti/rekaman sejarah dahsyatnya erupsi besar gunung api purba Semilir yang disebut sebagai Super Eruption of Semilir Volcano. Di sinilah ditemukan, pada situs ini juga ditemukan fosil nanoplankton yang menunjukan umur miosen awal.
Karena itulah Tebing Breksi Piroklastik Purba Sambirejo menjadi laboratorium alam di bidang petrologi, vulkanologi, geologi struktur, dan mikropaleontologi. Batuan vulkanik yang termasuk ke dalam Formasi Gunung Semilir ini dicirikan dengan fitur-fitur yang khas berupa endapan piroklastik jatuhan, hembusan, dan aliran termasuk struktur dune dan antidune.

Dosen Pascasarjana s2 Pendidikan Matematika, Joko Sulianto, mengatakan destinasi ini benar-benar sangat eksotis. Bahkan, bila melihat kontur tanah perbukitan terbuka seperti ini, Tebing Breksi dipastikan sangat eksotis bila didatangi pada saat sore hari.
“Dengan pencahayaan alami, tebing ini bisa dibayangkan eksotisnya. Bayangkan tebing menjulang dengan sorot teduh cahaya matahari sore. Pasti luar biasa,” tandasnya.

Pandangan senada juga diungkapkan Dosen PBI UPGRIS, Theresia Cicik Sophia B, yang sepakat dengan potensi keindahan tebing ini di sore hari. Ketika cahaya matahari sudah jatuh dan tidak menyengat lagi, pemandangannya sangat eksotik sekali.
“Kalau datangnya sore hari kita bisa lebih mengeksplore keindahan Tebing Breksi. Mungkin lain waktu perlu diagendakan lagi kesini pada saat sore hari,” tandasnya.
Bagaimanapun cara orang memandang Tebing Breksi. Tapi keindahan situs geologi purba ini akan tetap berdiri dengan kebisuannya. Dan barangkali benar, cahaya matahari senja jauh lebih bisa membaca kisah purba yang telah terlewat berkalpa-kalpa. (za)




