
Cebu-Derapguru.com, 19–22 September 2025 – Sesi country reports pada 39th ASEAN Council of Teachers + Korea (ACT+1) Convention menghadirkan beragam perspektif pendidikan dari sembilan negara ASEAN dan Korea Selatan.
Dari Brunei, Sarinah Binti Ziziumiza memaparkan program MOE Digital Transformation Plan 2023–2027 untuk mempersempit kesenjangan digital. Indonesia yang diwakili Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum. menegaskan kembali tema besar konvensi: “Educators: Humanizing Education Amidst Rapidly Changing Landscapes.”
Korea melalui Jabebom Cho menekankan masa depan pendidikan berbasis teknologi kecerdasan buatan. Malaysia, lewat Dr. Mohd Nazri Abdul Rahman, menyoroti pentingnya kurikulum yang humanis berbasis kompetensi. Dari Singapura, Ezzy Chan kembali menggarisbawahi makna humanising education sebagai napas utama ACT+1.
Thailand yang diwakili Asst. Prof. Phonraphee Thummaphan menekankan pengembangan profesional guru melalui kolaborasi internasional. Vietnam, lewat Hoang Thu Hang, menyoroti pentingnya mengembangkan kompetensi guru agar pendidikan tetap humanis di tengah perubahan cepat.
Sebagai tuan rumah, Filipina melalui Dr. Gilbert T. Sadsad menegaskan kembali peran guru bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga mentor dan inovator yang membangun jembatan antarbangsa.
Delegasi PGRI Jawa Tengah yang turut hadir dalam sesi ini memandang laporan negara sebagai sumber inspirasi. “Paparan para delegasi membuka mata kita, bahwa meski konteks berbeda, semua bangsa menghadapi tantangan yang sama: menjaga kemanusiaan di tengah teknologi. Inilah panggilan moral bagi guru Indonesia,” ujar Saptono Nugrohadi, Wakil Sekretaris Umum PGRI Jawa Tengah.
Sesi laporan negara menegaskan satu hal penting: meski beragam strategi ditempuh, semangat humanising education menjadi benang merah yang menyatukan seluruh bangsa peserta. (Sapt/Wis)




