
Cebu-Derapguru.com (20/9).
Pada rangkaian 39th ASEAN Council of Teachers + Korea (ACT+1) Convention, para pemimpin pendidikan menyampaikan pesan penting yang menjadi arah besar forum internasional ini.
Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. menegaskan bahwa guru adalah agen transformasi sosial yang menjaga masa depan bangsa. “Pendidikan harus adaptif, inklusif, dan resilien. Kolaborasi dan inovasi menjadi kunci untuk memastikan anak-anak kita siap menghadapi dunia yang terus berubah,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sonny Angara, Sekretaris Departemen Pendidikan Filipina, menekankan keseimbangan antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Ia menyinggung pendirian Education Center for Artificial Intelligence Research sebagai langkah strategis, namun mengingatkan: “Teknologi hanyalah alat. Inti pendidikan tetaplah anak-anak kita. Tidak boleh ada yang tertinggal.”

Sementara itu, Dr. Gilbert T. Sadsad, Ketua ACT+1 2025 sekaligus Presiden PPSTA, menekankan bahwa guru kini berperan lebih luas. “Kita bukan hanya penyampai pengetahuan, melainkan mentor, inovator, sekaligus pembangun jembatan antarbangsa. Adaptasi, resiliensi, dan personalisasi pengajaran adalah kunci agar setiap murid mendapat layanan terbaik,” tegasnya.
Delegasi PGRI Jawa Tengah menyambut positif pesan para pemimpin tersebut. Kehadiran Jawa Tengah sebagai bagian dari perwakilan Indonesia memperkuat citra guru sebagai motor perubahan yang rendah hati, namun penuh kontribusi di ranah global.(Sapt/Wis)




